Bagi Mas Sis, Allah Tak Ubahnya Painkiller

16 Oct 2013

Ilustrasi dari Reuters

Ilustrasi dari Reuters

Don Cempluk sudah lama kenal dan berkawan dengan Mas Sis. Lupa kapan pastinya mereka berkenalan, Don Cempluk kini sering touring bareng dengan Mas Sis karena mereka dalam satu komunitas mobil yang sama.

Hubungan Don Cempluk dengan pria beranak satu itu tidak akrab, namun tidak juga jauh. Kadangkala mereka ngobrol ngalor ngidul soal film-film terbaru jika tak sengaja duduk bareng di meja yang sama saat gathering komunitas.

“Aduh Aduh Ya Allah. Astaghfirullah,” erang Mas Sis di UGD saat luka bakar di perutnya diolesi salep oleh dokter jaga RS Bunda Putri.

“Sabar ya. Istighfar,” kata Don Cempluk coba menenangkan Mas Sis. Sang dokter lalu menyuntikkan obat penghilang rasa sakit di daerah sekitar luka bakar yang disebabkan oleh petasan itu.

Melihat Mas Sis yang mendadak relijius itu, Don Cempluk mohon izin sebentar ke WC. Toh ternyata istri Mas Sis sudah datang tergopoh bersama anak semata wayangnya.

Dari dalam WC masih terdengar erangan-erangan Mas Sis yang relijius. Tidak elok sebenarnya kalau Don Cempluk berpikiran Allah itu seperti obat penghilang rasa sakit alias painkiller. Tapi apalah daya, Don Cempluk tidak bisa melupakan kata-kata Mas Sis yang curang pada Allah jika sedang sehat.

“Ah. Ibadah kan urusan pribadi. Urus aja diri loe sendiri lah,” kata Mas Sis nyinyir sewaktu Don Cempluk mengajaknya Jumatan di sela-sela touring ke Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Don Cempluk garuk-garuk kepala heran kenapa dia yang tadinya slebor bisa menjadi sentimentil. Usai mencuci tangannya, Don Cempluk pamit dengan istri Mas Sis yang sudah relatif tenang karena sudah tahu luka suaminya yang iseng bermain petasan saat touring tidak fatal.


TAGS


-

Author

Follow Me


Categories

Archive