Belajar dari Kecelakaan Sukhoi, Pentingnya Data Gigi dan Sidik Jari

16 May 2012

Ilustrasi jariMeninggal dunia karena kecelakaan? Na’udzubillah, tentu tidak ada seorang pun yang ingin mengalaminya. Tapi bagaimana jika akhirnya takdir Allah berkata lain. Tentunya sebagai manusia, kita hanya bisa bersiap untuk segala macam kemungkinan terburuk

Tragedi ini menimpa penumpang Sukhoi Superjet 100 tatkala pesawat mereka menghantam tebing di Gunung Salak. Ledakan kuat dan dahsyat membuat pesawat yang punya daya angkut kurang lebih 98 orang itu hancur berantakan menjadi kepingan. Total loss…

Tak perlu diceritakan dengan detail bagaimana kondisi korban pesawat buatan rusia itu. Pastinya tim dari Disaster Victim Identification (DVI) harus bekerja dengan keras mengidentifikasi jasad-jasad yang sudah tidak utuh lagi itu dengan akurat.

Matching DNA dipilih sebagai opsi terakhir untuk proses identifikasi para korban. Paling mudah sepertinya, karena data DNA yang diambil dari tubuh korban langsung dicocokkan dengan data DNA keluarganya. Tapi metode ini juga punya kelemahan dari segi efisiensi karena mahal dan lama.

Korban pertama Sukhoi bisa diidentifikasi dari bentuk dan struktur gigi geliginya. Ahli forensik yakin 100 persen data ante mortem matching dengan post mortem korban.

“Mengingat proses identifikasi terhadap korban satu ini melalui catatan gigi geligi. Foto panoramik yang dibandingkan gigi geligi yang ditemukan pada kumpulan jenazah ada beberapa kecocokn susunan gigi geligi,tambalan, perawatan akar dan sebagainya. Rekan-rekan ahli gigi geligi forensik yakin 100 persen,” tutur Direktur Eksekutif DVI Indonesia, Kombes Anton Castilani, dalam jumpa pers di RS Polri, Jakarta Timur, Rabu (16/5/2012).

Terhitung sejak Sabtu (12/5/2012) sejak jenazah pertama dibawa ke RS Polri, maka proses identifikasi lewat gigi geligi ini memakan waktu kurang lebih dari seminggu. Bandingkan dengan proses matching DNA yang butuh waktu sampai 2 minggu.

“Waktu pemeriksaan kalau lancar mungkin dengan pemeriksaan DNA butuh waktu minimal 2 minggu,” kata Anton di kesempatan yang berbeda.

Gigi, sidik jari, dan DNA adalah data primer dalam melakukan identifikasi. Makin lengkap seseorang memiliki catatan hal itu, maka makin mudah proses identifikasi dilakukan. Tapi sepertinya di Indonesia data gigi bukanlah hal umum, pun data sidik jari juga sukar dikumpulkan.

Kesulitan ini diutarakan oleh Anton, tidak semua korban memiliki data post mortem yang mumpuni. Padahal pihak DVI sudah memiliki data post mortem-nya.

“Kita mengidentifikasi fingerprint sudah 34. Namun dari pembanding baru 20,” keluh Anton.

Keluarga boleh menuntut dan mendesak proses identifikasi orang yang disayanginya berjalan dengan cepat. Namun jangan lupa, jika kondisi korban atau jenazah tidak utuh, DVI bisa bekerja dengan cepat dengan mengandalkan kelangkapan data ante mortem.

Menarik hikmah dari setiap peristiwa, kejadian ini mungkin bisa dijadikan pelajaran bagi setiap orang betapa pentingnya data-data personal seperti catatan gigi, sidik jari, maupun DNA. Takdir mungkin tidak dapat ditolak tetapi dari situlah manusia


TAGS


-

Author

Follow Me


Categories

Archive